Monday, May 6, 2013

Permainan Tradisional Congklak dalam Pembelajaran Matematika



BAB I
PENDAHULUAN
A      Latar Belakang Masalah
Congklak adalah satu dari banyak permainan tradisional yang mulai hilang karena perubahan zaman. Pada zaman dahulu dengan segala keterbatasan fasilitas anak-anak masih dapat bermanin, dengan tidak menyalahi masa-masa mereka yaitu bermain. Dalam kehidupan secara tanpa dsadari ada banyak pelajaran, meskipun masyarakat kita tidak banyak mengenyam pendidikan yaitu memperoleh teori-teori yang harus dipahami dan dipelajari. Congklak adalah salah satu permainan yang didalamnya terdapat nilai yang lebih yaitu matematika, khususnya konsep pembagian.
Permainan yang sederhana namun mempunyai manfaat yang besar. Penulis memilih permasalahan ini karena ingin mengangkat realita yang terjadi di zaman ini, yaitu banyak anak-anak lebih suka menggunakan alat-alat canggih untuk bermain, seperti contoh : game on-line, playstation, PSP, dll. 
 
                                
 


Gambar 1. Playstation                                                       Gambar 2. Playstation Portable

Kesemuanya ini berakibat buruk bagi anak, diantaranya membuat mereka malas melakukan pekerjaan lain ketika sudah asik dengan game. Akibat lainnya mata mereka juga akan mudah mengalami kelemahan kekuatannya.
Namun dalam permainan congklak kita bisa mendapat sehat dengan cara bermain permainan tersebut, tidak hanya fisik, permainan ini juga bisa melatih otak untuk berpikir dan langsung praktek. Kami ingin melestarikan budaya nenek moyang yang telah diwariskan bagi generasi-generasi selanjutnya.

B.            Manfaat secara praktis
a.    Memberikan bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk meningkatkan hasil belajar dengan permainan congklak
b.    Bagi siswa agar memahami konsep-konsep dalam matematika dengan menerapkan kedalam situasi dunia nyata sehinggan belajar matematika lebih bermakna untuk mengembangan daya pikir dan tumbuh kompetensi siswa






BAB II
PEMBAHASAN

A.                Congklak sebagai Alternatif Media Pembelajaran Matematika
Tak disadari congklak dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran, khususnya pada matematika. Permainan peninggalan nenek moyang ini tidak kalah menariknya dengan permainan modern saat ini, missal: game on-line, playstation 2, PSP, dan masih banyak yang lainnya. Congklak dapat digunakan alternatif, karena tidak semua masyarakat di Indonesia dapat membeli permainan-permainan modern yang harganyapun relative mahal. Selain itu permainan modern juga kurang mendidik bagi anak-anak, mereka akan menjadi malas karena sangat asik dengan gamenya.
Permainan congklak merupakan permainan tradisional dari adat Jawa. Menurut sejarah permainan ini pertama kali dibawa oleh pendatang dari Arab yang rata-rata datang ke Indonesia untuk berdagang atau dakwah. Pada umumnya jumlah lubang keseluruhan adalah 16, yang dibagi menjadi tujuh lubang kecil dan satu lubang tujuan untuk masing-masing pemain. Lubang tujuan merupakan lubang terkiri (biasanya diameternya lebih besar). Skor kemenangan ditentukan dari jumlah biji yang terdapat pada lubang tujuan tersebut.

                                                     Gambar 14. Papan congklak                                                 Gambar 15. Biji congklak

Setiap pemain mengambil semua biji yang terdapat pada lubang kecil yang diinginkan, untuk disebar satu biji per lubang berurutan searah jarum jam. Langkah tersebut dilakukan berulang. Apabila pada lubang terakhir meletakkan biji masih ada isinya (lubang tersebut tidak kosong) maka pemain tersebut melanjutkan dengan mengambil semua biji yang terdapat pada lubang tersebut dan melanjutkan permainan. Apabila peletakan biji terakhir berada pada lubang yang kosong maka pemain tidak dapat melanjutkan langkah. Giliran untuk bermain berpindah ke lawan. Keadaan ini disebut sebagai keadaan mati.
Permainan berakhir apabila seluruh biji sudah berada pada lubang tujuan masing-masing pemain, atau apabila salah satu pemain sudah tidak memiliki biji pada lubang-lubang kecilnya untuk dimainkan (disebut mati jalan). Pemenangnya adalah yang memiliki jumlah biji terbanyak pada lubangnya.
Untuk bermain congklak dibutuhkan peralatan papan permainan congklak atau dalam bahasa jawa disebut dhakon dan biji-bijian atau batu kerikil atau cangkang kerang tergantung daerahnya. Di daerah dekat sungai batu-batuan digunakan sebagai biji dhakon, sementara di daerah perkebunan biasanya digunakan biji-bijian baik biji asem, kemiri ataupun biji jagung. Dhakon atau papan permainan congklak terbuat dari kayu yang dibentuk memanjang menyerupai lesung. Bidang atasnya pada kedua sisinya diberi lubang-lubang berjajar (sawah) dengan jumlah bervariasi pada setiap daerah misalnya 5, 7, atau 9 lubang. Di masing-masing ujungnya terdapat lubang besar (lumbung atau rumah). Jumlah biji yang digunakan dalam permainan congklak sesuai dengan jumlah sawah yang ada dalam papan permainan. Misalnya terdapat tujuh pasang sawah maka biji yang digunakan berjumlah 7 x 7 x 2 = 98.

No comments:

Post a Comment